gajah pare arsitektur bali

Hubungi kami jika anda mau bertanya dan membangun bangunan stil bali, kontak person 087861141389 email : gajahpare@gmail.com.

gajah pare arsitektur bali

Hubungi kami jika anda mau bertanya dan membangun bangunan stil bali, kontak person 087861141389 email : gajahpare@gmail.com.

gajah pare arsitektur bali

Hubungi kami jika anda mau bertanya dan membangun bangunan stil bali, kontak person 087861141389 email : gajahpare@gmail.com.

gajah pare arsitektur bali

Hubungi kami jika anda mau bertanya dan membangun bangunan stil bali, kontak person 087861141389 email : gajahpare@gmail.com.

gajah pare arsitektur bali

Hubungi kami jika anda mau bertanya dan membangun bangunan stil bali, kontak person 087861141389 email : gajahpare@gmail.com.

Sabtu, 31 Maret 2012

BENTUK DAUN DAN BUAH PADA MOTIF UKIR

Motif ukiran mengenal adanya stilasi. Stilasi mempunyai arti perubahan bentuk atau penyederhanaan bentuk aslinya menjadi bentuk gambar lain yang dikehendaki. Hampir sebagian besar motif ukiran tradisional telah mengalami perubahan bentuk dari objek aslinya, oleh karena itu motif ukiran tradisional dapat dikatakan motif stilasi. Stilasi pada ukiran tradisional yang sering digunakan adalah stilasi pada bentuk daun dan bentuk buah. Pada gambar di atas adalah contoh bentuk stilasi daun dan buah. Stilasi tersebut mengambil bentuk dari motif Jepara. Bentuk ukiran daun motif Jepara selalu bergerombol. Setiap ukiran daun berbentuk segi tiga dan relung (daun pokok) berpenampang prisma segitiga. Bentuk buah pada motif Jepara seperti buah anggur atau buah wuni. Bentuk daun dan buah setiap motif dapat berbeda-beda sesuai dengan kekhasan yang ada pada motif ukiran tersebut. Sedangkan gambar di atas hanyalah salah satu contoh saja, dari sekian banyak ciri khas motif ukiran yang ada.

MOTIF BALI


Motif Bali merupakan salah satu jenis motif ukiran tradisional yang berkembang di Nusantara. Motif ini seperti halnya motif tradisional yang lain, erat hubungannya dengan pemberian nama-nama kerajaan yang terdapat pada wilayah tersebut. Motif Bali adalah motif ukiran yang diduga merupakan peninggalan raja-raja atau kerajaan yang telah mengalami kemajuan kebudayaan pada jaman itu. Motif Bali ini bentuknya lemah gemulai, berirama dengan gayanya yang luwes, agung dan berwibawa, seolah-olah menggambarkan kepribadian sang raja dan masyarakatnya.
Motif Bali ini mempunyai beberapa ciri khas, yang dapat dipilah menjadi dua macam cirri khas yaitu yang bersifat umum dan yang bersifat khusus.
Ciri-ciri umum:
Motif Bali mempunyai semua bentuk ukiran daun, bunga dan buah yang berbentuk cembung dan cekung. Hal ini dapat dikatakan bahwa motif Bali adalah motif campuran yang mempunyai perpaduan bentuk antara cekung dan cembung.
Ciri-ciri khusus:
1. Angkup pada motif Bali seperti halnya pada motif lainnya, mempunyai bentuk yang berikal pada ujungnya.
2. Sunggar ini hanya terdapat pada motif Bali saja. Bentuk sunggar ini tumbuh dari ujung ikal benangan pada daun pokok.
3. Endong pada motif ini adalah daun yang tumbuh dibelakang daun pokok, seperti halnya ending yang terdapat pada motif Pejajaran dan motif Majapahit.
4. Simbar pada motif Bali seperti yang terdapat pada motif Pejajaran dan motif Majapahit dengan bentuk yang khas pula. Simbar berada di depan pangkal daun pokok mengikuti bentuk alurnya, sehingga dapat membentuk keserasian secara keseluruhan pada motif ini.
5. Daun Trubus yang tumbuh pada motif ini tumbuh pada bagian atas dari daun pokok melengkung merelung yang membentuk dengan indahnya.
6. Benangan pada motif ini bentuknya khusus atau khas. Benangannya berbentuk cembung dan miring sebagian. Benangan ini tumbuh melingkar sampai pada ujung ikal.
7. Pecahan ini seperti halnya pada motif-motif yang lain, mempunyai pecahan garis yang menjalar pada daun pokok dan pecahan cawen yang terdapat pada ukiran daun patran, sehingga dapat menambah keserasian dan indahnya bentuk ukiran.

Ukiran Kayu BALI

Seni ukir di Bali memiliki kualitas seni motif yg khusus dan berbeda dengan daerah lainnya. Pengaruh seni yg berkualitas namun guratannya lebih didominasi tumbuhan, binatang, bunga melati dan teratai serta gambaran tentang manusia atau hewan.
Bahan yang dipergunakan umumnya kayu berkualitas tinggi, seperti jati dan kayu lainnya yang berkualitas.

Sejarah, Seni Dan Budaya ukiran bali

Bali sudah didiami manusia sejak zaman purbakala. Bukti-bukti sejarah masa lampau itu antara lain berupa situs-situs megalit dalam berbagai bentuk dan ukuran yang dapat disaksikan baik di museum maupun di alam terbuka.
Peninggalan kebudayaan ukiran bali itu merupakan hasil kreasi seni pahat para nenek moyang, terdiri dari arca-arca batu berbentuk manusia, binatang, menhir, dolmen, punden berundak, kubur batu, lumpang batu dan sebagainya yang berukuran kecil sampai raksasa. Bukti-bukti peradapan pada masa 2500-1000 tahun sebelum Masehi itu tidak hanya mengesankan bagi wisatawan asing maupun domestic, tetapi juga bagi para ahli yang acapkali dating melakukan penelitian ilmiah.
Dalam terbuka, situs-situs megalit itu sebagian besar terdapat di Pulau Bali Keberadaan benda-benda megalit itu telah melahirkan berbagai legenda dan mitos di kalangan masyarakat Bali.

Filosofi Rumah Adat Bali

Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)
Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan dan parahyangan. Untuk itu pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri Hita Karana. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.
Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bali

Rabu, 14 Maret 2012

Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934

Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934, Sukra Umanis Merakih
Penanggal 1 Sasih Kedasa Çaka 1934
 
Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka yang dirayakan setiap kurang lebih satu tahun sekali. Nyepi tepatnya  jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga pada tanggal 1 sasih Kedasa. Pelaksanaan hari Nyepi lebih menitikberatkan pada “Catur Brata Penyepian”, yaitu:
  • Amati Geni  = tidak menyalakan api termasuk api hawa nafsu.
  • Amati Karya = tidak melakukan aktifitas kerja rutin.
  • Amati Lelunganan = tidak bepergian.
  • Amati Lelanguan = tidak bersenang-senang atau menghentikan kegiatan hiburan.


Jadi, melihat titik berat pelaksanaan Hari Nyepi tersebut, apakah tepat jika Nyepi itu disebut sebagai “Hari Raya” yang berkonotasi pada kesemarakan dan atau hari untuk bersuka-ria?
Kemudian saya mencoba mencari tahu hal ini. Mulai dari berselancar di dunia maya dengan mengunjungi situs-situs terpercaya yang mungkin membahas tentang hal ini. Namun, saya tidak mendapatkan titik cerah. Bahkan kebanyakan dari media tersebut sudah dari awal mendefinisikan Nyepi sebagai hari raya dengan menyebutkan, “Hari Raya Nyepi adalah hari…..” yang menurut saya kurang pas.
Akhirnya secara tidak sengaja saya menemukan referensi terpercaya (menurut saya) dari sebuah buku berjudul “Lima Cara Beryajna” yang ditulis oleh I Gusti Ketut Widana. Di sana disebutkan bahwa seringkali suatu istilah telah lumrah digunakan meskipun sebenarnya tidak sesuai dengan arti dan hakikatnya. Secara harfiah istilah “Hari Raya Nyepi” memang mengandung makna yang kontradiktif. Disebut “Hari Raya” berarti Nyepi itu dirayakan dengan kemeriahan, suka cita bahkan dipestakan. Sementara hakikat Nyepi itu sendiri adalah melaksanakan dengan penuh Sradha dan Bhakti “Catur Brata Penyepian”.
Sehingga inti dari hari Nyepi adalah pengendalian diri. Dengan menilik arti dan hakikatnya, maka istilah “hari raya” untuk Nyepi kurang tepat. Sedangkan untuk hari/rerainan lain seperti Galungan, Kuningan, Saraswati, dan Pagerwesi, masih bisa disebut sebagai “hari raya”, meski aspek pengendalian diri selalu tetap ada.
Terkait dengan kesalahkaprahan ini, Beliau juga menyinggung ucapan-ucapan selamat untuk Hari Nyepi yang juga “kadung pelih”. Misalnya yang sudah biasa adalah:
Selamat Hari Raya Nyepi”.
Karena konteks “hari raya” tidak tepat dengan hakikat Nyepi, maka ucapan yang sebaiknya digunakan adalah:
Selamat Menjalankan Brata Nyepi dan Tahun Baru Saka
Atau:
Selamat menunaikan Brata Penyepian dan Tahun Baru Saka”.
Meski agak panjang, tetapi karena kita diharapkan berupaya membangun sebuah kebenaran, bukan sebuah kesalahkaprahan maka hal ini patut dilaksanakan. Ucapan yang panjang ini, menurut I Gusti Ketut Widana, juga dimaksudkan untuk mengingatkan umat bahwa ada dua aspek yang hendak dicapai melalui Nyepi yaitu:
  • Aspek internal, yaitu kewajiban umat untuk menjalankan Catur Brata Penyepian dengan sungguh-sungguh dan tulus. Tidak seperti selama ini yang secara jujur harus diakui cukup banyak umat Hindu yang melaksanakan hakikat Nyepi yang “sepi” itu dengan kegiatan “ramai-ramai”, termasuk “maceki” dan “metajen”.
  • Aspek eksternal, yaitu berupa kewajiban umat untuk mengokohkan sendi-sendi “pasemetonan” atau kekeluargaan melalui pelaksanaan tradisi “masima krama”.
Diharapkan dengan adanya pembahasan ini, tidak ada kesalahkaprahan lagi tentang arti, hakikat dan tujuan sebenarnya dari pelaksanaan Nyepi. Sehingga dengan kesadaran ini akan dapat mengokohkan eksistensi umat Hindu yang pada gilirannya nanti berimbas pada hubungan harmonis dengan umat beragama lain dalam suasana yang damai.
 

Photo Galery





Proses Kerja



Minggu, 04 Maret 2012

Bentuk, Fungsi dan Material Bangunan Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya

Struktur Badan dan Atap Bangunan
Bentuk dan struktur badan bangunan rumah tinggal Bali Madya sebelumnya dibuat sederhana
dengan pola-pola bebaturan yang sederhana. Bentuk segi empat dan segi empat panjang adalah
bentuk yang paling banyak digunakan sebagai bangunan induk rumah tinggalnya. Sebahagian
besar bentuk atap bangunannya menggunakan bentuk limasan dan beberapa menggunakan
bentuk atap pelana seperti untuk bangunan paon/dapur.
Struktur badan bangunan tradisional Bali sebagian besar menggunakan tiang (sesaka) yang
terbuat dari kayu, begitu juga halnya dengan struktur atap menggunakan bahan kayu yang
dikombinasikan dengan bambu. Kayu yang digunakan memiliki kualifikasi atau jenis tertentu
pada setiap jenis bangunan di Bali, misalnya : kayu cendana, menengen, cempaka, kuanitan dan
majegau dipergunakan pada bangunan suci (Sanggah/Merajan/Pura). Kayu ketewel, teger,
bendu, sentul, sukun, seseh dan timbul dipergunakan untuk bangunan bale pada rumah tinggal.
Sedangkan untuk bangunan lumbung (jineng) dan dapur (paon) mempergunakan kayu wangkal,
kutat, blalu, sudep, seseh dan buhu.
Untuk studi kasus di lapangan, peneliti mendapatkan bahwa bangunan suci terbuat dari kayu dan
bambu. Kerangka tiang menggunakan kayu dengan konstruksi rangka dan sunduk serta pasak
(lait). Kerangka atapnya menggunakan kayu dan bambu khususnya untuk iga-iga-nya.

a. Struktur Badan dan Atap Bangunan
Bentuk dan struktur badan bangunan rumah tinggal Bali Madya sebelumnya dibuat sederhana
dengan pola-pola bebaturan yang sederhana. Bentuk segi empat dan segi empat panjang adalah
bentuk yang paling banyak digunakan sebagai bangunan induk rumah tinggalnya. Sebahagian
besar bentuk atap bangunannya menggunakan bentuk limasan dan beberapa menggunakan
bentuk atap pelana seperti untuk bangunan paon/dapur.
Struktur badan bangunan tradisional Bali sebagian besar menggunakan tiang (sesaka) yang
terbuat dari kayu, begitu juga halnya dengan struktur atap menggunakan bahan kayu yang
dikombinasikan dengan bambu. Kayu yang digunakan memiliki kualifikasi atau jenis tertentu
pada setiap jenis bangunan di Bali, misalnya : kayu cendana, menengen, cempaka, kuanitan dan
majegau dipergunakan pada bangunan suci (Sanggah/Merajan/Pura). Kayu ketewel, teger,
bendu, sentul, sukun, seseh dan timbul dipergunakan untuk bangunan bale pada rumah tinggal.
Sedangkan untuk bangunan lumbung (jineng) dan dapur (paon) mempergunakan kayu wangkal,
kutat, blalu, sudep, seseh dan buhu.
Untuk studi kasus di lapangan, peneliti mendapatkan bahwa bangunan suci terbuat dari kayu dan
bambu. Kerangka tiang menggunakan kayu dengan konstruksi rangka dan sunduk serta pasak
(lait). Kerangka atapnya menggunakan kayu dan bambu khususnya untuk iga-iga-nya.
b. Fungsi dan bentuk masing-masing bangunan



                                Foto 5.1 : Contoh tempat suci rumah tinggal tradisional Bali Madya

1). Unit Bangunan Suci (Sanggah/Sanggar/Merajan)
Fungsi bangunan ini adalah sebagai tempat suci atau pemujaan kepada Tuhan dan roh suci
leluhur. Pada unit bangunan suci ini terdapat beberapa bangunan dengan fungsinya masingmasing
serta jumlah bangunan-bangunan ini sangat bervariasi dan tergantung dari pemilik.
Namun demikian, yang mutlak terdapat dalam satu unit bangunan suci terdiri dari: Penglurah,
Kemulan, Padmasari, Peliangan, Taksu dan Piyasan.
b. Bale Meten/Bale Daja


                                        Fot 5.2 : Bangunan Bale Meten RumahTinggal Bali Madya

Bale Meten terletak di bagian Utara (dajan natah umah) atau di sebelah barat tempat suci/
Sanggah. Bale Meten ini juga sering disebut dengan Bale Daja, karena tempatnya di zona utara
(kaja). Fasilitas desain interiornya adalah 2 buah bale yang terletak di kiri dan kanan ruang.
Bentuk bangunan Bale Meten adalah persegi panjang, dapat menggunakan saka/tiang yang
terbuat dari kayu yang berjumlah 8 (sakutus), dan 12 (saka roras). Fungsi Bale Meten adalah
untuk tempat tidur orang tua atau Kepala Keluarga di bale sebelah kiri. Sedangkan di bale
sebelah kanan difungsikan untuk ruang suci, tempat sembahyang dan tempat menyimpan alatalat
upacara.
Sebagaimana dengan bangunan Bali lainnya, bangunan Bale Meten adalah rumah tinggal yang
memakai bebaturan dengan lantai yang cukup tinggi dari tanah halaman (±75-100 cm).
Bangunan ini adalah bangunan yang memiliki tempat tertinggi pada seluruh bale dalam satu
pekarangan disamping untuk menghindari terjadinya resapan air tanah.
c. Bale Dangin/Bale Gede
Bale Dangin terletak di bagian Timur atau dangin natah umah, sering pula disebut dengan Bale
Gede apabila bertiang 12. Fungsi Bale Dangin ini adalah untuk tempat upacara dan bias
difungsikan sebagai tempat tidur. Fasilitas pada bangunan Bale Dangin ini menggunakan 1 balebale
dan kalau Bale Gede menggunakan 2 buah bale-bale yang terletak di bagian kiri dan kanan.
Bentuk Bangunan Bale Dangin adalah segi empat ataupun persegi panjang, dan dapat
menggunakan saka/tiang yang terbuat dari kayu yang dapat berjumlah 6 (sakenem), 8
(sakutus/astasari), 9 (sangasari) dan 12 (saka roras/Bale Gede). Bangunan Bale Dangin adalah
rumah tinggal yang memakai bebaturan dengan lantai yang cukup tinggi dari tanah halaman
namun lebih rendah dari Bale Meten.


                                                      Foto 5.3 : Bangunan Bale Dangin

c. Bale Dauh/Loji
Foto 5.4 : Bangunan Bale Dauh
Bale Dauh ini terletak di bagian Barat (Dauh natah umah), dan sering pula disebut dengan Bale
Loji, serta Tiang Sanga. Fungsi Bale Dauh ini adalah untuk tempat menerima tamu dan juga
digunakan sebagai tempat tidur anak remaja atau anak muda. Fasilitas pada bangunan Bale Dauh
ini adalah 1 buah bale-bale yang terletak di bagian dalam. Bentuk Bangunan Bale Dauh adalah
persegi panjang, dan menggunakan saka atau tiang yang terbuat dari kayu. Bila tiangnya
berjumlah 6 disebut sakenem, bila berjumlah 8 disebut sakutus/astasari, dan bila tiangnya
bejumlah 9 disebut sangasari. Bangunan Bale Dauh adalah rumah tinggal yang memakai
bebaturan dengan lantai yang lebih rendah dari Bale Dangin serta Bale Meten.